Showing posts with label SENI BUDAYA. Show all posts
Showing posts with label SENI BUDAYA. Show all posts
Saturday, May 27, 2017
Friday, March 17, 2017
Seni tari jatilan
Pengertian Jatilan.
Jathilan adalah kesenian yang telah lama
dikenal oleh Masyarakat Yogyakarta dan juga sebagian Jawa Tengah. Jathilan
juga dikenal dengan nama kuda lumping, kuda
kepang, ataupun jaran kepang. Tersemat kata
“kuda” karena kesenian yang merupakan perpaduan antara seni tari
dengan magis ini dimainkan dengan menggunakan properti berupa kuda-kudaan yang
terbuat dari anyaman bambu (kepang).
Dilihat dari asal katanya, jathilan
berasal dari kalimat berbahasa Jawa “jaranne jan
thil-thilan tenan,” yang jika dialihbahasakan ke dalam bahasa
indonesia menjadi “kudanya benar-benar joget tak beraturan
”. Joget beraturan (thil-thilan) ini memang
bisa dilihat pada kesenian jathulan utamanya ketika para penari telah
kerasukan.
Sejarah Jatilan
Kesenian tari jathilan dahulu kala sering dipentaskan pada
dusun-dusun kecil. Pementasan ini memiliki dua tujuan, yang pertama yaitu
sebagai sarana menghibur rakyat sekitar, dan yang kedua juga dimanfaatkan
sebagai media guna membangkitkan semangat rakyat dalam melawan penjajah.
Ada beberapa cerita awal sejarah mengenai jatilan. Versi pertama
menceritakan jatilan adalah kesenian yang mengisahkan perjuangan Raden Patah
dibantu Sunan Kalijaga dalam melawan penjajahan Belanda. Sebagaimana yang
kita ketahui, Sunan Kalijaga adalah sosok yang acap menggunakan budaya, tradisi
dan kesenian sebagai sarana pendekatan kepada rakyat, maka cerita perjuangan
dari Raden Patah itu digambarkan kedalam bentuk seni tari jathilan.
Versi terahkir adalah jatilan
merupakan cerita Panji Asmarabangun, yaitu putra dari
kerajaan Jenggala Manik. Tatkala yang
disampaikan adalah cerita mengenai Panji Asmarabangun, maka penampilan para
penaripun menggambarkan tokoh tersebut, baik aksesoris pun
gerakannya. Sebagai contoh aksesorisnya adalah mengenakan gelang
tangan, gelang kaki, ikat pada lengan, kalung, menyengkelit keris, dan tentu
saja mengenakan mahkota yang acap disebut “kupluk Panji.
Gerakan dan Pelaksanaan Tarian
Pagelaran kesenian ini dimulai dengan tari-tarian oleh para
penari yang gerakannya sangat pelan tetapi kemudian gerakan-nya perlahan-lahan
menjadi sangat dinamis mengikuti suara gamelan yang dimainkan. Gamelan untuk
mengiringi jatilan ini cukup sederhana, hanya terdiri dari drum, kendang,
kenong, gong, dan slompret, yaitu seruling dengan bunyi melengking.
Lagu-lagu yang dibawakan dalam mengiringi tarian, biasanya
berisikan himbauan agar manusia senantiasa melakukan perbuatan baik dan
selalu ingat pada Sang Pencipta, namun ada juga yang menyanyikan lagu-lagu
lain. Setelah sekian lama, para penari kerasukan roh halus sehingga hampir
tidak sadar dengan apa yang mereka lakukan, mereka melakukan gerakan-gerakan
yang sangat dinamis mengikuti rancaknya suara gamelan yang dimainkan.
Pada mulanya penari nampak lemah
gemulai dalam menggerakkan badan, namun seiring waktu berjalan, para
penari menjadi kerasukan roh halus, dimana kondisi kerasukan ini dalam bahasa
Jawa sering dikatakan istilah “ndadi” atau dalam
bahasa Inggrisnya ‘trance’ . Dalam
keadaan kerasukan, para penari jatilan hampir tidak sadar terhadap apa yang
diperbuatnya. Gerakan tariannyapun mulai tak beraturan, pada kondisi
inilah kata jathilan itu tergambar, jaranne jan
thil-thilan tenan (kudanya benar-benar berjoget tak beraturan).
Dalam satu pertunjukan, kecuali para
penari yang memiki jumlah tertentu tergantung cerita yang hendak disampaikan,
maka ada instrumen pertunjukan lainnya, yaitu para penabuh gamelan, para
perias, dan yang tak boleh ketinggalan adalah keberadaan “ pawang ”, yaitu sosok yang memiliki peran serta
tanggungjawab mengendalikan jalannya pertunjukan dan menyembuhkan para penari
yang kerasukan.
Ketika terjadinya “ ndadi ” alias kerasukan, para penari
jathilan mampu melakukan atraksi berbahaya yang tidak dapat dicerna oleh
akal manusia, sebagai contoh adalah memakan dedaunan, menyantap kembang, bahkan
juga mengunyah beling (pecahan kaca), bahkan berperang
menggunakan pedang, serta tindakkan menyayat lengan.
Pelaku seni tari kuda lumping tak
sebatas pada jenis kelamin laki-laki saja,melainkan ada pula perempuannya,
keduanya tetap tak bisa lepas dari kejadian ‘ndadi’ a.k.a trance. Ini memberikan pesan bahwa jathilan
selain merupakan hiburan rakyat juga mampu menyertakan unsur ritual.
Contoh nyata adalah ketika seorang pawang jathilan melakukan suatu ritual yang
intinya memohon ijin kepada Tuhan agar jalannya pertunjukan lancar, serta
mengucapkan “permisi” kepada makhluk lain yang berada diseputaran tempat
tersebut agar tidak menggangu jalannya pertunjukan.
Dalam Seni Jatilan disediakan berbagai sesaji yang disediakan.
Sajen yang disediakan pada pertunjukan jathilan diantaranya adalah satu tangkep
pisang raja, beberapa macam jajanan pasar berupa makanan-makanan, tumpeng
robyong yang dihias dengan daun kol, bermacam-macam kembang, beraneka jenis
minuman (kopi ,teh , air putih ), menyan, hio (dupa China),
ingkung (ayam bekakak), sega golong (nasi bulet), dan lain sebagainya. Jenis
sesaji ini tentu saja tak sama antara daerah satu dengan yang lainnya.
Sunday, March 12, 2017
Tari topeng Betawi
#Dahulu masyarakat Betawi mempercayai tari topeng
memiliki kekuatan magis dan di nilai dapat
mengusir
bala,juga di percaya untuk enghilangkan kedukaan karena
kematian,sakit
ataupun petaka lainya.
Selama ini yang kita tau topeng sering di artikan sebagai
kedok.tetapi bagi masyarakat betawi,topeng berbeda
dengan kedok,topeng di sini
adalah pertunjukan.
Tarian yang akrab dengan aroma mistis ini selalu di
warnai
pembakaran dupa dengan wewangian khas yang bisa membuat
bulu kuduk
berdiri mengawali pementasan tarian ini.
Konon cikal bakal pagelaran topeng betawi mempunyai dua
narasi,yaitu narasi yang berhubungan dengan jaka pertaka,
sedang narasi lainya
adalah tentang sukma jaya.,kedua narasi
ini memperlihatkan bahwa topeng di
anggap mempunyai
kekuatan magis,antara lain,pertama Dewa Umar maya yang
dapat
menghidupkan dan mematikan Ratna Cuwiri dan
menghidupkan patung kayu,di anggap
mempunyai kesaktian
.Dewa yang menyamar sebagai dalang ini membawa
kesaktianya
dalam perkumpulan topeng.
Dengan alasan itulah rupanya orang Betawi menganggap
topeng
mempunyai kekuatan magis yang bisa menghilangkan
kedukaan karna kematian,sakit
ataupun petaka lainya.karna
itu pula acara ketupat lepas hanya bisa di lakukan
dalam
topeng dan tidak ada bentuk teater Betewi yang lain.
Di iringi dengan
sepuluh pemusik rebab,kecrek,kulanter,ketuk
,gendang,goong,bende berikut seorang
sinden dan tiga penari
yang menunggu giliran tampil..setelah beberapa saat menimang-nimang dengan tangan kirinya,di kenakanya tipeng berwarna putih tersebut.openg Panji yang melambangkan kelembutan tersebut di bawakan lewat
tarian yang lemah lembut.
konon kelembutan tarian topeng tersebut
sekaligussebagai tarian untuk menyambut penonton setiap pagelaran tari topeng Cisalak maupun topeng Betawi.Usai mengenakan topeng Panji,sang penaripun kembali
berbali membelakangi penonton.Di taruhnya topeng tersebut dan di kenakan topeng
berwarna merah muda ( topeng Sanggah ).gerakan penari terlihat lebih atraktif
dan agresif.
Menyaksikan rangkaian
pagelaran topeng Cisalak tidak ubahnya dengan menyaksikan Topeng Banjer dari
Karawang atau Topeng Bekasi yang biasa di sebut Topeng Betawi.Pada umumnya mereka
mengawali pertunjukan dengan tiga tahapan persiapan,pelaksanaan dan penutup..
Saturday, May 21, 2016
Tembang SINOM KONDHA PURNA
SINOM KONDHA PURNA
Selagi muda mbok berusaha, Bermodal budi
pekerti yang suci, Dalam menyembah Tuhan, Pasti akan sejahtera semuanya, Penuh
kasih sayang kepada sesama, Dan itu yang jadi jalan titian (hidup), Jauh dari
kanistaan, Bila berjanji tidak ingkar, Tabah, Tangguh, Sanggup berkarya.
Mumpung
anom marsudiya, Alandhesan budi suci,
Denya
manembah Hyang Suksma, Yekti yuwana
sakalir,
















